17 September 2009

Wahai Malaysia, biarkanlah Indonesia Tenang!





Wahai Malaysia…!
Engkau tau bahwa kami adalah bangsa yang berdaulat
Tapi mengapa hidup kami selalu Engkau ganggu!
Apa salah kami…?

Wahai Malaysia…!
Tidakkah engkau ingat bahwa kami penah mengirim guru ke tempatmu?
Tidakkah engkau sadar bahwa dirimu pernah memakai bahasa Indonesia?
Tidakkah engkau tahu bahwa ragam budaya dan sukumu hanya sedikit dibandingkan kami?

Wahai Malaysia…!
Apakah kami pernah berbuat kesalahan kepadamu?
Bila pernah, kami akan memperbaikinya…!
Tolong katakanlah kepada kami…!

Wahai Malaysia…!
Indonesia bukan Negara Kesultanan, tapi Republik
Yang memiliki ragam agama, suku, budaya, dan lain sebagainya!
Kuharap engkau mengerti…!

Wahai Malaysia…!
Kami bukan bangsa yang suka berperang…
Kami adalah bangsa yang suka berdamai
Kami juga bangsa yang masih engkau butuhkan..!

Wahai Malaysia…!
Kita adalah tetangga, tapi mengapa engkau mengganggu hidup kami?
Kita tidak bisa hidup sendiri tanpa bergandengan tangan…!
Kita harus saling berdampingan...!

Wahai Malaysia…!
Aku memohon bukan karena Indonesia lemah,
Aku memohon bukan karena Indonesia bodoh,
Tapi karena ingin ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan...!

Wahai Malaysia…!
Memang kita memiliki kesamaan, tetapi tidak semuanya...!
Perhatikan saja budaya aslimu adalah melayu,
Hanya itu yang sama persis, yang lain tidak...!

Wahai Malaysia…!
Kenapa rakyat kami tidak pernah tenang hidup di tempatmu?
Tapi rakyat hidup tenang di tempat kami...!
Bahkan dipulangkan ke tempatmu, meski ilegal...!

Wahai Malaysia…!
Wilayah kami memang luas, tapi engkau anggap milikmu
Wilayah kami memiliki keanekaragaman hayati, tapi engkau renggut
Apakah engkau merasa tidak puas dengan yang engkau miliki...?

Wahai Malaysia...!
Hidup Indonesia dan Malaysia...!
Marilah kita saling menjaga diri
Marilah kita saling memaafkan...!

Wahai Malaysia…!
Kumohon dengan sangat...
Biarkanlah kami memiliki budaya dan wilayah kami...!
Bersyukurlah dengan apa yang engkau miliki...!

Wahai Malaysia…!
Kumohon dengan sangat...
Sekali lagi, kumohon dengan sangat...
Biarkanlah Indonesia tenang...!!!
______________________________
Tarutung, Indonesia, 26 Agustus 2009
Oleh : B. Marada Hutagalung


http://maradagv.multiply.com
http://maradagv.wordpress.com
http://maradahtgalung.blogspot.com

Menggapai Cita-Cinta

Hidup ini adalah indah bila kubisa nikmati
Namun aku yang hijau masih merasa kekurangan
Hanya karena keinginan belaka yang tak dapat kugenggam

Ah, Tuhan itu tidak adil…!
Kenapa aku harus memikul derita ini…?
Aku hanya merenggut angin…!

Ah, ternyata aku hanya mendapatkan mimpi buruk
Tak satu pun insan yang bisa membantuku
Kepada siapa lagi aku harus memohon?

Aku hanya sekelumit tumbuhan yang masih berdaun hijau
Yang selalu didatangi berbagai macam hama...
Yang selalu diterpa cuaca yang tak menentu
Aku mimpikan air datang namun kemarau yang menemuiku
Aku mimpikan cahaya menyinariku namun kegelapan yang menghampiriku

Tatkala aku mengidamkan air dan cahaya...
Namun, daun yang lain lebih lebar dan lebat
Hinggaku tertutupi olehnya
Cara lain kulakukan, dengan akar aku berusaha meresap air
Namun, akar yang lain lebih besar dan banyak,
Hinggaku terdesak oleh akarnya

Tidak, tidak, tidak....!
Aku tak boleh menyerah....!
Sekalipun aku hanya tumbuhan kecil
Aku harus bertahan....
walauku hanya mendapatkan setetes air
walauku hanya sedikit berkas cahaya yang kudapat

Tuhan, mampukanlah aku menikmati hidup ini
mampukanlah aku memikul penderitaan ini...
Tuhan, aku yakin Engkau hadir dalam hidupku
Menemaniku untuk bertumbuh dan berkembangkan

Tuhan, aku butuh air....!
Tuhan, aku butuh cahaya...!
Hanya itu yang kuimpikan......
___________________________
Tarutung, 10 Oktober 2008
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th


http://maradagv.multiply.com

Taruna Siaga Bencana

(TAGANA)


Indonesiaku yang tercinta, aku menangis
Indonesiaku yang selalu menderita...
Indonesiaku yang selalu tertimpa...
Oh Indonesiaku....

Kini aku dengan cinta akan memikul penderitaanmu...
Kini aku dengan semangat mencegahmu dari tertimpa...
Kini aku dengan segenap jiwa dan raga akan membahagiakanmu

Wahai negeriku....
Bersama Tagana, aku akan selalu mencurahkan cinta untukmu
Bersama Tagana, aku akan selalu memelukmu dari penderitaan
Apapun yang terjadi, aku adalah untukmu selamanya...

Aku....
Adalah insan Tagana yang akan selalu bertaqwa pada Tuhan
Adalah insan Tagana yang akan selalu menjalankan amanah
Adalah insan Tagana yang akan melawan berbagai badai....

Dengan sukacita,
aku rela menderita untukmu
Dengan doa dan tindakan,
‘kan ‘kulakukan yang terbaik untukmu

Oh Indonesiaku, negeriku
Aku adalah untukmu...
Aku adalah hidupmu...
Tak akan kubiarkan engkau menangis...

Aku, dengan jiwa Tagana....
Siaga selalu untuk mencabut penderitaanmu
Siaga selalu memberikan yang terbaik untukmu....

Wahai jiwaku, insan Tagana...
Majulah.....!!!
_______________________________
Tarutung, 03 September 2008
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th


http://maradagv.multiply.com/journal/item/47

Selamat Pagi Mentari

Tak pelak aku bangun karena suara ayam jantan
Kubuka jendela kamarku terasa nian cahayanya
Ku sadar aku sudah terlambat bangun

Akhirnya aku keluar sebentar tanpa membasuh diri
Sejenak aku bergumam kagum :
“Oh, alangkah indahnya dirimu mentari”
“Engkau telah membawaku ke kehidupan baru”

Ah, andai aku bisa menjamahmu hidupku akan terasa bahagia
Sayang, memang sudah begitu hidupmu dibuat-Nya
Aku di sini, engkau di sana
Tapi, engkau jauh tetap bisa kurasakan kehadiranmu

Alangkah mulianya perbuatanmu terhadap sesamaku,
tak pernah menuntut balas, selalu memberi kehidupan
Aku ingin seperti mu, mentari...!

Aku sering kesepian, tapi cahayamu selalu menemaniku
Tapi tak satu pun makhluk yang bisa menemuimu
Ataupun menaklukkanmu...

Mentari, terima kasih...
Aku akan menjalankan hidup baruku...
Besok kita masih bersua,
Aku ucapkan, selamat pagi mentari....
___________________________
Tarutung, 13 Agustus 2008
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th

Selamat Malam Bintang Jauh

Sejenak aku ke luar ke halaman rumah,
aku duduk di teras seraya memandang ke atas langit.
Oh, sungguh alangkah indahnya bintang yang satu itu,
Lebih terang dari pada yang lain

Oh bintang...
Engkau telah menerangi jiwaku yang gelap
dengan sinarmu, engkau tersenyum padaku
membuat hatiku semakin terpana.

Kuingin memilikimu,
Tapi sayang, kau tak bisa kuraih.
Bila kupandang, engkau begitu dekat...,
tapi, bila kudekati dan kusentuh...,
engkau begitu jauh...!

Aku memang tak bisa terbang...
Tapi, bila pun burung ahli dalam terbang...
tetap jua tak bisa mendekatimu.
Malang melintang memang nasibku,
Ternyata sang meteor dan kometlah yang menjadi sainganku.

Sayang, aku hanya bisa memandang.
Akhirnya aku kembali ke rumah,
karena tak tahan dengan cuaca dingin dan
juga banyak nyamuk...!
Hai bintang, aku mau tidur...!
Selamat malam bintang jauh...!
___________________________
Tarutung, 23 Juli 2008
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th

Menanti Jalur Terbuka

Di kala aku berpetualang ke samudera
tatkala kumelihat sebuah pulau nan indah dan anggun
hingga aku mencoba untuk berlabuh ke dermaga
dan sebelumnya kubertanya pada orang lain :
“Apakah nama pulau itu?”

Sayang sekali, jalur berlabuh untuku masih tertutup
karena kartu tanda pengenalku masih diragukan
dikhawatirkan aku bisa membawa masalah...

Namun, tak kusangka dia bisa merubah hidupku,
dia bisa meleburkan jiwaku yang sudah lama membeku
dengan kehangatan suasana pulaunya

Meskiku masih di laut lepas
namun hari-hariku dipenuhi sukacita
seraya berkata dalam hati :
“Kemegahanmu menembus benteng jiwaku...”
“kehangatanmu menghidupkan api dalam dadaku...”
“Tanahmu memberiku kedamaian abadi...”

Memang pernah kucoba untuk melupakanmu
Tapi, harum semerbakmu masih terasa di hidungku,
Wajahmu masih selalu membayangi hari-hariku,
Namamu masih terukir dalam kepalaku...,
Akhirnya kukembali berpetualang

Waktu terus berganti dan petualanganku nyaris berhenti
Ternyata kamu masih memilih waktu untuk masa depanmu
membiarkan para saudagar untuk berbisnis demi kemegahanmu
membiarkan pulaumu dibangun dengan keindahan
membiarkan masyarakatmu bekerja setiap hari
membiarkan pantaimu diawasi dari serangan tak terduga

Memang pulaumu pernah didatangi seorang petualang
namun tak bisa bertahan lama karena pulau lain menantinya
sehingga para pemimpinmu membuat sebuah keputusan.
Keputusan yang pasti dan membuahkan hasil yang indah
agar para petualang tidak sembarang datang dan pergi
Karena petualang yang diinginkan hanya satu...!

Bukan hanya aku saja yang berpetualang ke pulaumu,
banyak petualang lain ingin berlabuh ke dermagamu
hingga para pemimpinmu sulit membuka jalur pelabuhan
Akhirnya aku hanya mengitari pulaumu.
Menunggu dan menunggu sampai jalur pelabuhan terbuka
Ah..., sampai kapan aku sanggup mengitari pulaumu?
Perbekalanku hampir habis....!!!
_____________________________________________
Tarutung, 16 Juli 2008
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th

Puisi ini Kupersembahkan untukmu seorang...!

Aku Cinta Padamu

Ku bersyukur, bisa mengenal...
Dirimu oh kasih..!
Engkau telah membuat aku
jatuh hati padamu...

Segala cara ku rencanakan
dengan mantap dan yakin
Akhirnyaku menemuimu
‘Tuk ucapkan cinta…!

Tapi ku gagal setelah bertemu,
kau buat aku tak berkutik.
Segala rencana yang t’lah kupersiapkan
Tak dapat aku perbuat...!

Lagu ini t’lah kucipta
‘tuk menghibur diriku
S’bagai tanda ‘tuk mengungkapkan
aku cinta padamu....!

Sampai kapan ku bisa ungkap :
“Aku cinta padamu...?”
___________________________________________________________
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th
Tarutung, 21 Desember 2007
Ditulis ulang di Tarutung, 24 Juli 2008

NB. : Ini adalah sebuah syair lagu yang diciptakan penulis sendiri

Lagunya dapat dilihat dan di-download di : klik http://maradagv.blogspot.com/2011/05/aku-cinta-padamu.html

Cinta Sejatiku

O Tuhan, Kau ciptakan aku...
dan Kau b’ri cinta kepadaku
Tapi ku tak tahu cintaku
Cinta yang t’lah kudamba

O Tuhan, mengapa Kau buat...
Diriku memiliki cinta
Tapi ku malah tersiksa
Oleh karena tak tahu cintaku

Akankan cinta sejatiku...
’kutemui setiba ajalku?
Mungkinkah ini terjadi...?
Atau sudah menjadi takdirku..?

O Tuhan jangan biarkanku...
tersiksa oleh karena cinta.
Tolonglah hamba-Mu ini
’tuk temui cinta sejatiku...!

Betapa indah oh Tuhan, Kau ciptakan aku...
dengan memiliki cinta yang indah Kau beri.
Tapi kumalah tersiksa..., oleh karena cinta....!
Siapa dan di manakah ’kan kutemui cinta sejatiku...?
______________________________________________________
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th
Tarutung, 16 Desember 2007
Ditulis ulang di Tarutung, 24 Juli 2008
NB. : Ini adalah sebuah syair lagu yang diciptakan penulis sendiri

Dang Adong Alai Adong





























__________________________________________________

Tulisan Latin :

DANG ADONG ALAI ADONG

Tung mansai asing do nuaeng panghilalanhu.
Dang adong alai adong...!

Molo huida, dang adong...
Molo huhilala.., alai adong.
Aha do i...?

Molo hulului, sai lam dao...
Molo hupadao, alai sai hira najonok...
Aha do i...?

Molo hujama dang huhilala..
Alai molo dang hujama gabe au do dijama.
Aha do i...?

Molo dang adong boasa sai adong di pinghiranku.
Molo dao boasa sai jonok tu rohanghu.
Molo dang hilala hujama boasa sai dijama.
Molo na marrupa do, aha do i...?
Molo jolma do, ise do i...?
__________________________
Binahen : B. Marada Hutagalung
Di Tarutung, 22 Nopember 2007


__________________________________________________

Terjemahan Indonesia :

TIDAK ADA TETAPI ADA

Hatiku sekarang sangat merasa asing
Tidak ada tetapi ada...!

Bila kulihat, tidak ada...
Bila kurasakan ada...
Apakah itu...?

Bila kucari, malah bertambah jauh.
Bila aku jauh, malah seperti mendekat padaku. Apakah itu...?

Bila kuraba, tidak kurasakan...
Bila tidak kuraba, malah aku yang disentuh...
Apakah itu...?

Bila tak ada mengapa harus ada dalam perasaanku?
Bila jauh, mengapa harus dekat di hatiku?
Bila tak kurasakan kuraba, mengapa hatiku disentuh...?
Bila berwujud, apakah itu...?
Bila insan, siapakah dia...?
__________________________
Binahen : B. Marada Hutagalung
Di Tarutung, 22 Nopember 2007

Puisi ini mirip dengan Puisi : TAK ADA TAPI ADA - Versi 1 (Keyakinan), karena memang terinspirasi dari puisi tersebut.

Error Processor

Hidup ini penuh lika-liku,
Sekali pun begitu tetapi saling berkaitan.
Namun saat ini segala aktivitas user sudah uncompatible dengan alam
Bahkan link tidak lagi dipergunakan dengan baik antar sesama user
Semuanya lebih meng-update kehidupannya sendiri
Tanpa memperhatikan sekitarnya

Kenapa ini terjadi?
Ini akibat godaan virus, sang perusak
Tidak peduli siapa saja user yang diserangnya
Bahkan para user ikut menjadi bagian dari virus
Tak ayal,  system pun error...!

Processing berjalan tanpa halangan,
Namun link dengan yang lain jadi Error
Tapi user tidak memperdulikan itu
Yang penting bisa menjadi multi-user,
Mencoba menguasai, merubah semua  system yang ada.

Apakah memory error? Tidak...!
Memory user tidak error, tetapi dikuasai virus
Mengingat ini, user harus perlu men-scan  system,
Me-registry kembali segala sistem yang error dan
Memory hanya butuh waktu di-defragment

Sangat disayangkan, user tidak memperhatikan virus, worm, trojan, dan spyware
Virus telah melahirkan system-system aturan main sendiri
Worm telah mengubah pola pikir baru terhadap system yang sebenarnya
Trojan dan Spyware bekerjasama mengubah system perangkat yang ada
Jadi, tak dapat dihindari lagi...user tidak berfungsi

Sadarlah wahai user...masih ada waktu untuk berubah...!
Jangan sampai error processor membuatmu jadi ‘hang’...!
Masih ada kesempatan untuk meng- install ulang...!
Ubahlah pola system yang telah terinfeksi itu...!
___________________________
Tarutung, 13 & 28 Agustus 2007
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th

Peristiwa Tak Terduga

(nyaris membunuh anak saat mengabdi kepada Negara)

Tugas adalah tanggung jawab yang wajib kulakukan...
Tapi, siapa yang tahu apa yang akan terjadi nantinya,
Di saat kita semua menjalankan tugas demi negara,
Tantangan, halangan, ancaman, dan hambatan pasti datang...!
Kedatangannya pun tak dapat diduga...! Siapapun dia...!
Kecuali Yang Di Atas...!

Aku sendiri tak bisa membaca kejadian yang akan terjadi...
Aku hanya berharap semoga aku bisa jalankan tugasku dengan baik
Ternyata, tugasku terhenti di tengah jalan karena aku mendapat masalah
Aku nyaris membunuh anak, nyaris mencabut nyawanya...
Ia terbaring setelah dihantam oleh sepeda motor yang kupinjam...
Aku terkejut...!

Oh...Tuhan, kenapa hal ini terjadi?
Aku diberi kata-kata yang tidak mengenakkan di sekitar kejadian...
Aku pasrah, tugasku kuhentikan demi nyawa anak...
Aku pasrah, aku mohon kepada orang tuanya...

Aku tak bisa menyalahkan dia, karena dia tidak tahu apa-apa.
Aku sendiri bingung, di mana kesalahanku saat menjalankan tugas...
Aku sendiri bingung, apakah aku sengaja atau tidak...
Tapi aku berterima kasih kepada orang-orang yang mengerti aku
Terlebih kepada-Mu, Tuhan...!

Inilah peristiwa yang belum pernah terjadi dalam hidupku
Peristiwa ini membuat aku panik, nyaris tak tahu berbuat apa-apa!
Tapi untunglah Tuhan mau mengerti aku...
Nyawanya tidak hilang, dan raganya tidak sekarat...

Aku mohon Tuhan, tuntun aku dalam hidupku sehari-hari...
Tuntun aku dalam melaksanakan tugasku...
Aku mohon Tuhan, jangan kembalikan aku ke masalah ini lagi.
Tapi, jika memang itu terjadi lagi, mampukan aku hadapi semua itu.
Namun harapanku, yang berlalu biarlah berlalu
Dan berikutnya tak terulang lagi...!
______________________________________
Tarutung, 24 Juli 2007
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th

Terinspirasi di saat Penulis mendapat masalah di Terminal Madya Tarutung, 24 Juli 2007.-

Sendiri...!

Indahnya hariku bersamamu yang kita lalui di saat itu.
Tapi kini telah sirna apa yang kuharapkan...
Tinggalkan diriku sendiri.

Aku harus bersabar hadapi kenyataan ini...
Karena engkau memohon tinggalkan aku sendiri.
Semoga dirimu selalu penuh bahagai...
‘Kan kuingat selalu kenangan kita berdua.

Maafkan diriku yang membuatmu kecewa
Semoga citamu berhasil kau gapai, oh kasih.

Aku harus bersabar karena tinggalkan’ku
Sendiri...!
________________________________
Tarutung, 24 Juli 2007
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th

Kupersembahkan buat mantan Kekasihku...!

Kukenang Selamanya

Wahai kasihku, dunia ini luas
Ya..., seluas pikiran dan pemahaman kita
Demikian juga cintaku padamu...

Wahai kasihku,
Tak dapat kulukiskan betapa pahitnya permohonanmu
Berargumen agar aku jauh dari sisimu
Karena kau dan aku adalah beda...

Kini aku telah menjalani permohonan itu
Terpaksa aku lakukan dengan berat hati.
Namun, aku mencoba untuk ikhlas hati...

Wahai kasihku, betapa sulitnya permohonanmu
Sehingga aku bertanya: apakah itu keinginan atau kebutuhanmu?
Apakah itu seikhlas hatimu?

Wahai kasihku,
Terima kasih atas cinta yang kuberikan kepadaku
Segala pegorbananmu telah membuat aku penuh dengan harapan
Namun apa yang hendak kukata, kamu dan aku harus berjarak
Itu karena permohonanmu...

Wahai kasihku,
Hari jadi kita akan kujadikan penghias mimpiku
Hari-hari yang kita lalui bersama akan kujadikan warna yang indah dalam hidupku
Pahit getirnya perbuatanmu akan kujadikan pengalaman dalam hidupku
Wajahmu akan kujadikan pelepas rinduku
Semuanya itu akan kukenang selamanya...!
___________________________________
Tarutung, 09 Juli 2007
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th

Kupersembahkan buat mantan Kekasihku...!

Kau...

Kau... yang terindah
dalam hidupku... sepanjang masa.
Kau... yang termulia
dalam hidupku, Tuhan.

Kau... yang teragung
di jagat raya... sepanjang masa.
Kau yang tekudus
di jagat raya... ini.

Hidup ini adalah milik-Mu,
yang Kau berikan padaku
Tiada yang lain selain-Mu,
yang layak disembah...

Kubersyukur atas berkat-Mu
Kubersyukur atas pengampunan
Yang Kau curahkan kepadaku...

Kau... yang terkekal
di Alam ini, Tuhan ...
_______________________________
Tarutung, 01 Mei 2007
Ditulis ulang : Tarutung, 24 Juli 2008
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th

“Puisi ini adalah sebuah lagu...!”

Jadilah Cinta...

Indahnya dunia ini bukanlah milik kita bersama
Dunia ini hanyalah tempat sementara bagi kita
Tempat kita ada pada lokasi-Nya
Kendati demikian, nikmatilah dunia ini
Tetapi janganlah menjadi dunia
Biarlah dunia menjadi kita

Indahnya hari ini bukanlah milik kita
Hari ini hanyalah waktu sementara bagi kita
Waktu untuk kita telah ditentukan-Nya
Kendati demikian, nikmatilah hari ini
Tetapi janganlah menjadi budak pada hari ini
Biarlah hari ini menjadi waktu bagi kita.

Indahnya Cinta bukanlah milik kita
Cinta tidaklah sementara bagi kita
Cinta adalah milik-Nya
Kendati demikian, nikmatilah cinta
Tetapi janganlah biarkan cinta hilang dari hati kita
Biarlah cinta menjadi bagian dari hidup kita

Indahnya hidup ini bukanlah sekedar hidup
Hidup memang hanyalah sementara bagi kita
Habisnya hidup ini ada pada ketetapan-Nya
Kendati demikian, nikmatilah hidup ini
Jadilah cinta bagi semua makhluk,
bagi lingkungan sekitarnya...
Jadilah cinta...
_______________________
 B. Marada Hutagalung, S.Th,-
Tarutung, 13 Pebruari 2007

Terima Kasih Ibu

Ibu, hari ini aku berkarya,
Tersenyumlah...! Sebab engkau jarang tersenyum...
Ibu, hari ini aku berbicara,
Tentang engkau yang telah mendewasakan aku.

Ibu...,
Sejenak aku merenung dan terbayang akan kasih sayangmu
Sejak aku masih kecil, engkau merawat aku dengan penuh kasih sayang
Di saat aku sedang bertumbuh, dan berusaha untuk tahu segalanya
Saat itu aku sering berontak akan nasehat-nasehat dan perintah-perintahmu
Sehingga engkau marah dan membentakku, dan tak segan memukul
Tak kusadari itu karena kasih sayangmu padaku.

Kini aku telah melewati batas itu
Dan bertumbuh dewasa meski berbeda dengan yang ibu harapkan,
Karena benih pemberontakan masih melekat dalam diriku
Oh..., betapa kejamnya aku!

Ibu..., cintamu begitu mulia padaku
Sekalipun engkau tiada dana dan daya.
Tetapi engkau tetap berusaha memberiku kehidupan...
Sekalipun engkau lemah dan menderita,
Tetapi engkau tetap berusaha memberiku yang terindah...
Dan sekalipun engkau dalam marabahaya,
Tetapi engkau berusaha lebih dulu menjagaku.

Tak dapat kulukiskan betapa besarnya pengorbananmu,
Engkau bagaikan lilin kecil yang menerangi ruang hidupkku yang gelap
Meski kecil tetapi cahayamu dapat menjadi pelita bagiku
Alangkah bodohnya aku, tak tahu berbalas budi dan tak perduli
Ibu..., di saat engkau berbicara kepada Yang Maha Kuasa
Engkau tak pernah lupa untuk memohon kepada-Nya agar aku didampingi-Nya
Ibu..., di saat engkau berada di tanah sebrang yang jauh...
Engkau selalu ingat akan diriku.
Ibu..., tanpa engkau... mungkin aku akan menderita.

Ibu, aku tidak tahu apakah ada kesempatan lain,
Tapi, inilah kesempatanku untuk berkarya.
Ibu, aku tahu diriku telah menyakitimu
Tapi inilah kesempatanku untuk bermohon: Ampunilah aku...!
Ibu, engkau jarang tersenyum untukku,
Tapi inilah kesempatanku untuk berkata: tersenyumlah untukku...!
Ibu, pengorbananmu tak dapat ditukarkan dengan materi
Tapi, di hari kebesaranmu ini kankulukiskan dalam hati dengan persembahan sebuah karya;
Dan di hari kebesaranmu ini aku berkesempatan untuk mengucapkan:
Terima Kasih Ibu...!
___________________________________
Tarutung, 19 Desember 2006
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th

Dibacakan pada Hari Ibu yang ke-78 Tahun di Gedung Nasional Tarutung

Aku Orang Indonesia

Aku orang Indonesia
Merah putih benderanya
Pancasila sebagai dasar Negara
Bhineka Tunggal Ika Semboyannya

Ke mana dan di manakah
Ku tetap orang Indonesia
Mempertahankan Kemerdekaan
Sampai akhir hayat hidupku...

Tujuh belas agustus tahun empat lima
Hari kemerdekaan bangsa Indonesia
Yang diproklamasikan oleh Bapak Bangsa
Dan diperjuangkan para pahlawan
Indonesia bangsa kau tetap kupuja
dan kubela dan kucinta sepanjang masa
meski harus dengan pertumpahan darah
Aku tetap Indonesia
______________________________________
Tarutung, 16 Agustus 2006
Ditulis ulang : Tarutung, 24 Juli 2008
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th

“Puisi ini adalah sebuah lagu...!”

Hati Yang Terselubung - bag. 5/terakhir

(bagian lima/terakhir)

Sekarang, aku sudah lebih tahu siapa kamu
Meski tak sepenuhnya, tapi itu sudah cukup
Dan tidak hanya dari orang

Aku datang ke-empat kalinya
Saudarku ikut ke-dua kalinya
Aku sudah tahu kamu,
Tapi hati masih terselubung
Pura-pura tidak mau tahu…

Debat di antara kita telah kita lalui
Sayang, kau sempat buat hatiku tercambuk
Terima kasih, informasimu memperbaiki polaku
Dan tak dapat kupastikan apa masih bersambung…

Maaf seribu maaf,
Lupakanlah semua keteledoranku
Agar aku tak menjadi batu sandunganmu

Maaf seribu maaf,
Tak usah perbuat yang aku pinta
Agar tugasmu dari-Nya cepat selesai

Ini sudah terjadi, dan segera berlalu
Selesai sudahlah urusanku denganmu
Akhirnya, aku harus menjauhimu
Aku harus jadi pecundang dan pengecut
Aku membohongi, menipu diri…!
Itulah jawaban yang kutemukan…

~~~ Salam Sejahtera ~~~
_____________________________________________________________
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th
Terinspirasi di Kec. Tarutung & Simorangkir (Kec. Siatas Barita), 03 Mei 2006
Dirangkai/ditulis kembali di Tarutung, 06 Mei 2006

Hati Yang Terselubung - bag. 4

(bagian empat)

Aku datang sesuai dengan janjiku padamu
Tapi sayang, aku tepat waktu
Sesuatu yang lebih penting harus diselesaikan
Dan pertemuan berikut masih bersambung…

Terima kasih, engkau tahu aku lelah
Tapi itu bukan permintaanku
Sekalipun aku lelah, kutetap membantu
Memang kusempat bingung membantumu
Karena aku dalam keadaan lunglai

Satu pertanyaan bagiku,
Kenapa kamu buat aku terpikat?
Sulit kujawab…
Atau apa mungkin kepribadiaanmu pengaruhi aku?

Kala pertemuan itu aku b’ri karyaku
Karya curahan alam pikirku,
Karya curahan alam hatiku…
Sayang, kamu protes banyak…

Tidaklah penting bagiku protes
Aku hanya ingin t’rima dengan sukacita
Dan memahaminya…
Sebab hanya itu bisa b’ri tahu tentang hatiku

Aku masih bingung apa kamu mengerti,
Tapi aku rasa kamu mengerti
Andai kau tahu, terima kasih…
Bila kau tak tahu, juga terima kasih
Dan bila tak mau tahu, itu terserah…

Beginilah jadinya, bila takut ke pasukan-Nya
Kurasa ini masih dalam langkah awal…
Ah…, lebih baik aku lupakan saja
Tapi, haruskah aku jadi bodoh…
Jawaban masih belum kutemukan…
____________________________________________________________
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th
Terinspirasi di Kec. Tarutung & Simorangkir (Kec. Siatas Barita), 01 Mei 2006
Dirangkai/ditulis kembali di Tarutung, 06 Mei 2006

Kerinduan Hati - 4

(masih saling mencintai)

Pejantan tangguh…
Aku…? Apa iya…?
Tidak sama sekali…!
Aku…, adalah pejantan tanggung.

Ah…, aku bersyukur bisa bertemu
Tapi sayang, hanya sebentar
Itu karena aku pejantan tanggung

Terima kasih buat sahabatku
Engkau telah bawa aku ke tempatnya
Tapi, alangkah bodohnya aku…
Aku rindu, tapi tak kupuaskan
ketikaku jumpa denganmu

Maaf, perjumpaan kita tak mengenakkan
Aku langsung mudah sakit hati
Langsung pamit,
Akhirnya menyesal…

Seharusnya aku tanya kamu,
Masihkah kamu cinta aku?
Mana kamu pilih, aku atau pilihan orang tuamu?
Sayang, tak jadi kusampaikan…

Aku masih bingung,
Apakah kamu mengujiku?
Untunglah kau jawab dengan jujur,
Dan engkau masih mencintaiku…
Aku sukacita, kita masih saling mencintai

Kau akan tetap berusaha untukku
Sekalipun kau dipersiapkan ke orang lain
Itu katamu sekarang, aku tidak tahu besok…
Mudah-mudahan Yang Di Atas Merestui
Dan tetap menyatukan cinta kita…!
__________________________________________________________
Terinspirasi dari Dolok Sanggul (Kec. Humbang Hasundutan), 04 Mei 2006
Dan dari via telepon di Tarutung, 06 Mei 2006
Disusun/ditulis kembali di Tarutung, Mei 06 2006
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th
Rewritten: Tarutung, July 17th 2007

Kerinduan Hati - 3

(mencoba berlapang dada)

Aku tahu kau jauh
Aku salah memang,
Aku tak ke sana,
Sebab kutahu kau rindu…

Sekarang, kuingin mencurahkan rinduku
Dan menguatkan komunikasi antara kita
Tapi, sangat disayangkan,
Aku tak bisa berkomunikasi
Lewat udara, tenaga dana kurang…
Lewat darat, tak tahu mau ke mana disampaikan
Karena, kau tak di situ lagi

Lewat apalagi aku curahkan rinduku
Tak ada lagi, kecuali menemui di tempat asal
Ah…, sama saja tak bisa…
Tenaga dana masih kurang.
Apakah aku pengecut, pecundang?
Aku tidak tahu, tapi mungkin juga…

Informasimu memang mengudara
Selama kita masih Satu dan mendarat di telinga
Prosespun berjalan dalam jiwa
Dan…akhirnya, sakit hati.

Ah…, tak apalah kalau memang itu terjadi
Katamu, kau akan dijadikan ke orang lain
Dan paksaan orang yang melahirkanmu,
paksaan orang yang membesarkanmu, merawatmu

Kalau kamu tak suka dia,
Bersolusilah dengan benar dan baik
Jangan menyiksa diri dan keluarga
Posisimu memang bak si buah malakama
Melawan mereka, salah…
Tinggalkan aku, juga salah…

Aku… ‘kan s’rahkan ke Tuhan
Jiwa, roh, dan raga siap menghadapi keputusanmu
Meski aku cinta kamu…
Aku berlapang dada…!
_____________________________
Tarutung, Mei 02nd /05th 2006
By : B. Marada Hutagalung, S.Th
Rewritten: Tarutung, July 17th 2007

Hati Yang Terselubung - bag. 3

(bagian tiga)

Waktu menentukan siang,
Temanku menemuiku di tempatku
dan tak kuduga aku malah berencana menemuimu
bersama dia dan aku, ke tempatmu…
Masihkah berlanjut? Aku tidak tahu…

Sambutanmu begitu manis
Membuat temanku menjadi tersanjung
Aku jadi iri dan cemburu…
Apa kamu tahu itu?

Engkau memang baik hati,
sampai-sampai kamu buat aku…
juga dia, terpesona akan kepribadianmu

Kamu, juga aku dan dia
sama-sama petugas-Nya, sekalipun masih calon
Itulah yang membuatku takut berkata hati,
Tidak hanya itu, kepribadianmu buatku jadi tak berkutik
Menjadikan aku harus menyembunyikannya..

Ketika aku dan dia berencana kembali
Ada sesuatu yang tertukar…
Ya…, alas kaki yang tertukar dengan yang lain.
Ah…! Kenapa jadi begini?
Dengan perasaan kesal, terpaksa aku pakai dan pulang

Aku tidak tahu apa kamu tahu itu,
Aku hanya bisa berkata-kata dengan tulisan yang kucurahkan
Bila kamu tahu, aku bersyukur…
Bila kamu tak tahu, tak apa-apa..

Tapi, haruskah aku jadi pecundang?
Atau haruskah aku jadi pengecut?
Ah… masih belum bisa kujawab…!
______________________________________________________________
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th
Terinspirasi di Kec. Tarutung & Simorangkir (Kec. Siatas Barita), 28 April 2006
Dirangkai/ditulis kembali di Tarutung, 01 Mei 2006

Hal Yang Paling Indah Bagiku

Hal yang paling indah bagiku…
Dapat mencintai keluargaku.

Hal yang paling indah bagiku…
Dapat mencintai kekasih yang cinta aku atau tidak.

Hal yang paling indah bagiku…
Dapat mencintai teman dan sahabatku.

Hal yang paling indah bagiku…
Dapat mencintai orang yang memusuhiku.


Hal yang paling indah bagiku…
Dapat mencintai orang yang tak kukenal sama sekali.

Hal yang paling indah bagiku…
Dapat mencintai lingkungan sekitarku, dan lainnya.

Hal yang paling indah bagiku, lebih dari segalanya…
Dapat mencintai Yang Maha Kuasa.

Jadi, hal yang paling indah bagiku…
Dapat mencintai dan menjadi cinta bagi semua.

Sekali lagi, hal yang paling indah bagiku…
Juga dalam hidupku, prinsipku adalah bercinta…!
______________________________
Tarutung, Mei 01st 2006
By : B. Marada Hutagalung, S.Th
Rewritten: Tarutung, July 17th 2007

Jadi Guru

Cita-citaku, bukanlah jadi guru
Tapi, kenapa harus jadi guru?
Apa aku bisa jadi guru?
Sebab, aku pernah melawan guru…

Aku sendiri belum bisa jadi insan yang dapat ditiru
Menjadi teladan itu bagi murid yang meniru,
Harus bisa jadi contoh teladan yang dapat ditiru
Jadi guru, harus bisa b’ri guguh yang patut ditiru

Kepada siapa aku berguru,
Agar aku bisa jadi guru yang patut diteladani dan ditiru…?
Memang sulit jadi guru,
Tapi, biarlah aku jadi guru…!
______________________________
Tarutung, Mei 01st 2006
By : B. Marada Hutagalung, S.Th
Rewritten: Tarutung, July 17th 2007

Selamat Jalan Kekasihku…!

Kenangan indah telah kita lalui bersama
Sampai tak terlupakan, sampai sekarang
Sayang sekali engkau harus pergi…
Tinggal nama dan aku…

Awalnya aku tak rela engkau pergi
Tapi, takdir tak bisa kita lawan…
Engkau harus pergi…

Engkau tinggalkan aku bukan karena tak sayang
Engkau menjauh dariku bukan karena benci
Tapi waktumu telah ditentukan harus pergi
Dariku…, juga dari semua yang engkau cintai

Kepergianmu terpaksa harus kurelakan…
Ah…! Diriku terasa terpukul oleh kepergianmu
Tanpa ada kata perpisahan…
Cintamu putus di tengah jalan…
Tak bisa kusesali, sebab bukan salahmu

Waktu tak bisa kembali,
Sebab tak dapat semua menduga…
Kamu tiba-tiba pergi ke tempat lain

Kenang tetap kuingat,
Tapi tak mungkin lagi kumencintaimu
Aku hanya bisa berkata,
semoga kau diterima oleh-Nya…!

Jangan khawatir sayangku,
Suatu saat nanti pasti kita bertemu di sana…
Dan sebagai kata perpisahanku:
Selamat Jalan Kekasihku…!
______________________________
Tarutung, Mei 01st 2006
By : B. Marada Hutagalung, S.Th
Rewritten: Tarutung, Meil 17th 2007


NB.: Puisi ini cocok untuk kepada anda yang telah ditinggalkan oleh kekasih, atau cocok bagi orang yang kekasihnya meninggal dunia.

Kerinduan Hati - 2

(menangis, menangis dan menangis)

Menangis…
Pikiran, hati menangis
Sejak engkau berkata kau disatukan dengan

Namun, hari-hari ini kau, bukan aku
telah tak pernah aku mendengar kamu lagi
Informasimu tak terdengar, tak terlihat lagi
Apa aku salah…?

Engkau tentu tahu aku rindu
Tapi aku tidak tahu: Rindukah kamu?
Aku bingung, kau posisikan di mana hatiku?
Ah… sayang, lupakah kamu denganku?

Engkau tahu aku cinta, tapi: Masihkah kau cinta?
Jika ya, katakanlah! Agar jiwaku tenang di sini.
Jika tidak, juga katakanlah! Agar jiwaku tak menanti-
nanti.
‘Kan kucoba melupakanmu, sekalipun aku cinta…!

Sayang sekali, aku belum bisa melupakanmu…
Aku masih merindukanmu, aku cinta kamu…
Biarlah Tuhan yang menentukan pilihanku…
______________________________
Tarutung, April 25th 2006
By : B. Marada Hutagalung, S.Th
Rewritten: Tarutung, July 17th 2007

Kerinduan Hati - 1

(masihkah kau cinta?)

Pada permulaan aku dan kau
Saling mengenal dan mengerti
Kau selalu mewartakan pribadi
Demikian dengan diriku

Namun, hari-hari ini kau, bukan aku
Telah tak pernah aku mendengar kamu lagi
Informasimu tak terdengar, tak terlihat lagi
Apa aku salah…?

Engkau tentu tahu aku rindu
Tapi aku tidak tahu : rindukah kamu?
Aku bingung, kau posisikan di mana hatiku?
Ah…saying, lupakah kamu denganku?

Engkau tahu aku cinta, tapi : masih kau cinta?
Jika ya, katakanlah! Agar jiwaku tenang di sini.
Jika tidak, juga katakanlah! Agar jiwaku tak menati-nanti.
‘’Kan kucoba melupakanmu, sekalipun aku cinta…!

Sayang sekali, aku belum bisa melupakanmu…
Aku masih merindukanmu, aku cinta kamu…
Biarlah Tuhan yang menentukan pilihanku…
_______________________________
Tarutung, April 25th 2006
By : B. Marada Hutagalung, S.Th
Rewritten: Tarutung, July 17th 2007

Melawan Emosi Yang Tak Berarti

Aku menangis…
Karena perasaanku tertekan jiwa yang menjauh
Aku tidak tahu apa memang insan itu berbuat demikian
Aku menangis demi kepuasan hati

Aku marah…
Karena jiwaku tak menemukan berita dari yang jauh
Aku marah padanya, pada yang lain, bahkan pada diriku
Aku marah demi kekesalan hati

Akhirnya, aku tertawa…
Karena diriku ternyata bodoh dan tolol
Aku sadar, semua itu tidak ada arti
Sekalipun aku tertekan, dan kesal,
Kembali, aku tertawa demi kebahagiaan hati…!
_______________________________
Tarutung, April 25th 2006
By : B. Marada Hutagalung, S.Th
Rewritten: Tarutung, April 17th 2007

Pribadi Yang Terpenjara

Gelap, gelap…!
Mengapa aku harus di sini?
Aduh! Tangan dan kakiku dirantai?
Apa salahku? Aku bukan penjahat!
Tolong lepaskan aku dari sini!
Tolonglah, aku tidak tahan!

Ah…kamu rupanya memenjarakanku.
Sedemikian besarkah salahku?
Sehingga engkau masukkan aku ke penjara!
Katakanlah agar aku tahu salahku.

Bila memang aku salah, aku mohon ampun.
Bila memang engkau tak memaafkanku,
Salahkanlah, tapi jangan buat aku terpenjara…
Aku mohon, tolonglah aku…
Aku tidak tahan…! Oh…, tolonglah aku…!
______________________________
Tarutung, April 25th 2006
By : B. Marada Hutagalung, S.Th
Rewritten: Tarutung, Mei 17th 2007

Jiwa Yang Menerawang

Terbang dan terbang
Pikiranku menerawang angkasa bayang
Namun belum menemukan pendaratan yang dituju
Itu karena masalah hati

Melayang dan melayang
Hati mencoba menerawang langit-langit khayalan
Tapi masih belum mendapatn pendaratan yang pasti
Itu karena masalah perasaan

Ah…! Ada apa ini?
Mengapa aku belum menemukan pendaratan itu
Sudah kuulang, kucoba, dengan berbagai cara
Tapi, masih tetap gagal…
Ah…! Masih menerawang…!
_______________________________
Tarutung, April 24/25th 2006
By : B. Marada Hutagalung, S.Th
Rewritten: Tarutung, April 25th 2006

Hati Yang Terselubung - bag. 2

(bagian dua)

Aku sudah mulai tahu siapa kamu,
Tapi masih belum semuanya
Setelah kucermati kamu dan sekitarmu
sampai ke lokasimu yang tak begitu jauh

Untuk kedua kalinya kita bersua kembali
aku ingin lebih tahu dengan kamu
Tapi, yang kudapat debat dan jebak
seolah memojokkanku

Tak kuduga, kau berbuat begitu,
Dan jiwaku mengganggu saraf tubuhku…
Aku bersyukur, kau informasikan seperti itu
Dan aku tak tahu apa masih bersambung…

Maaf seribu maaf
Bukan itu yang kuinginkan
Hanya aku Takut Yang Di Atas
Karena engkau penyambung lidah-Nya
Aku jua…

Maaf seribu maaf,
Bukan maksudku mencobai kamu
Hanya aku takut kamu tersentak
Karena aku masih baru,
Kamu jua,

Oh…, inikah yang harus terjadi?
Barangkali itu penjajakan
Oh…, kulapakan sajalah…
Tapi, haruskah kumenipu diri?
Masih tak bisa kujawab…
______________________________________________________________
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th
Terinspirasi di Kec. Tarutung & Simorangkir (Kec. Siatas Barita), 20 April 2006
Dirangkai/ditulis ulang di Tarutung, 21 April 2006

Tersenyumlah, Hai Diriku

Hai pikiranku, mengapa engkau gundah gulana?
Janganlah kiranya terlalu memikirkan masalah hati
Berpikirlah untuk masa depan yang cerah
Hai pikiranku, tersenyumlah…

Hai hatiku, mengapa engkau resah dan gelisah?
Janganlah kiranya terlalu memaksakan perasaan
Bersabarlah untuk waktu yang akan datang
Hai hatiku, tersenyumlah selalu…

Hai jiwaku, mengapa engkau ragu dan bimbang?
Janganlah kiranya terlalu menganggap itu masalah berat
Tentikan pilihanmu untuk kehidupan nanti
Hai jiwaku, tersenyumlah selamanya…

Hai diriku: pikiranku, hatiku, jiwaku
Tersenyumlah dengan sukacita
Anggap semua itu sebagai permulaan
Anggap semua itu sebagai bunga-bunga kehidupan.
Tersenyumlah, hai diriku…!
___________________________________________
Tarutung, April 24th 2006
By : B. Marada Hutagalung, S.Th
Rewritten: Tarutung, April 25th 2006
Revised/second rewritten: Tarutung, July 17th 2007

Kemunafikanku...

Aku…
Jelas aku dong…!!!
Tak boleh ada seperti aku
Satupun tak boleh…!

Bila kau batu,
Aku…, besi
Ingat itu…!!!

_______________________________
Tarutung, April 17th 2006
By : B. Marada Hutagalung, S.Th
Rewritten: Tarutung, April 21st 2006

Aku Dan Dunia

Dunia adalah dunia
Di situ banyak kehidupan yang fana
Ya, aku tahu itu
Tapi, kenapa aku iku dunia?
Apa karena aku di dunia?
Mungkin juga,
Tapi kenapa aku yang dikuasai dunia?

Aku adalah aku
Tapi, aku jadi dunia
Bukan dunia jadi aku

Tidak…!
Aku tidak mau jadi dunia
Biarlah dunia jadi aku
Harus itu…!!!
_______________________________
Tarutung, April 17th 2006
By : B. Marada Hutagalung, S.Th
Rewritten: Tarutung, April 21st 2006

Hati Yang Terselubung - bag. 1

(bagian satu)

Aku sudah tahu siapa kamu,
Tapi belum dalam,
Itupun dari orang

Ketika bersua pertama kali,
Aku ingin lebih tahu dengan kamu,
Tapi aku bagaikan bulan melirik di siang bolong
Seolah tak perduli

Tak kuduga, kau hampiri aku,
Dan jantungku menggetarkan tubuhku…
Terima kasih, kau informasikan pribadimu
Dan masih bersambung…

Sayang seribu sayang,
Aku takut Yang Di Atas
Sebab, engkau kaki dan tangan-Nya
Aku jua…

Sayang seribu sayang,
Aku takut salah mengerti
Sebab, mungkin hanya ingin sahabat
Bukan sahabat sehidup semati.

Ah…, kenapa jadi begini?
Mungkin itu permulaan…
Ah…, diamkan saja…
Tapi, haruskah kumembohongi diri?
Tak bisa kujawab…
______________________________________________
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th
Terinspirasi di Simasom (Kec. Pahae Julu), 17 April 2006
Dirangkai di Tarutung, 17/18 April 2006
Ditulis ulang di Tarutung, 21 April 2006

Benci Tapi Sayang

Bosan…
Aku bosan lihat kamu
Kamu t’rus buat sakit hati

Kamu tahu aku benci kamu,
Tapi kamu terus bertingkah
Aku benci…

Hei…kamu…! Ingat…!
Untung aku anggap kamu saudara…
Aku hanya benci tingkah lakumu…
Sadarlah kamu…
_________________________
Tarutung, 11 April 2006
By : B. Marada Hutagalung, S.Th

Beban Yang Tak Teratasi

Aku capek, lelah, dan letih,
Kucoba istirahat, tapi tak kunjung lega
Beban masih menghantui pikiranku.

Meski’ku lemah tak berdaya
Kucoba untuk beraktivitas
Tapi tak kunjung teratasi
Kepulihanku belum klimaks

Oh..beban!
Kenapa kau masih lekat?
Ke mana kupergi, kau terus ada…
Mengertilah denganku…
_________________________
Tarutung, 11 April 2006
By : B. Marada Hutagalung, S.Th

Tak Ada Tapi Ada - Versi 2

(jatuh cinta)

Sadar tak sadar
Di saat aku sendiri
Selalu ada yang menghantui pikiranku
Kulihat, tak ada…!
Bila tak berwujud, apakah itu?
Bila insan, siapakah dia?

Waras tak waras
Ketika aku kesepian
Selalu ada yang membayangi hatiku
Kugenggam, tak ada…!
Bila tak berwujud, apakah itu?
Bila insan, siapakah dia?

Gila tak gila,
Di saat aku kosong
Selalu ada yang mengganggu jiwaku
Bila tak berwujud, apakah itu?
Bila insan, siapakah dia?

Apakah itu jatuh cinta?
Bila memang, siapakah cintaku?
Aku tidak tahu,
Tapi aku yakin aku jatuh cinta.
_________________________
Tarutung, 10 April 2006
By : B. Marada Hutagalung, S.Th

Tak Ada Tapi Ada - Versi 1

(Versi Keyakinan)

Di saat aku lemah
Dia selalu b’ri kekuatan
Kulihat, tak ada…!
Kurasa, ada…!
Siapa Dia?

Ketika aku lelah
Dia selalu b’ri kelegaan
Kuraba, tak ada…!
Kujiwai, ada…!
Siapa Dia?

Di waktu aku sakit
Dia selalu b’ri pengobatan
Kupelajari, tak ada…!
Kuimani, ada…!
Siapa Dia?

Apakah Dia yang Agung itu?
Aku tidak tahu…
Tapi aku yakin, itu ada.
__________________________
Tarutung, 10 April 2006
By : B. Marada Hutagalung, S.Th

Aku Tidak Tahu (masa bodoh)

Aku tidak tahu siapa aku,
Aku tidak tahu siapa kamu,

Aku tidak tahu apa aku sayang kamu,
Aku tidak tahu apa kamu sayang aku,
Aku tidak tahu apa aku benci kamu,
Aku tidak tahu apa kamu benci aku,

Ah…aku bingung
Juga, aku tidak tahu…
Kenapa jadi begini, ya…?
Pun, aku tidak tahu,
Pokoknya aku tidak tahu,
Masa bodoh ah…! (emang gua pikirin)
__________________________
Tarutung, 10 April 2006
By : B. Marada Hutagalung, S.Th

Tempat Penantian

Rumah…
Di situ aku tinggal
Tapi tak ada keabadian
Ya, kenapa ada perantauan?

Dunia…
Di situ aku hidup
Tapi tak ada kekekalan
Ya, kenapa ada kematian?

Sorga…
Di mana itu?
Itukah tempatku selamanya?
Dan itukah yang kuharap-harapkan?
Aku bingung jua…
Tapi, aku yakin itu ada.
_________________________
Tarutung, 10 April 2006
By : B. Marada Hutagalung, S.Th

Keegoisan (tidak mau tahu)

Aku…
Siapa kenal aku?
Aku sendiri ragu

Kamu…
Siapa kamu?
Aku tidak perduli
Aku tidak mau tahu

_________________________
Tarutung, 10 April 2006
By : B. Marada Hutagalung, S.Th

You, The Far Love

You, you are far away so much
Make me, must effort to challenge
Alive of you, the far…

You, you are far away so much
Make me, must land off in short landing
In your world, the far…

You, the far love
Must I be give up?
You, the far love
Must I be back off?

You, the far love
Let me near you…!
You, the far love
Let me to love you…!
_________________________
Tarutung, 17 Januari 2005
By : B. Marada Hutagalung, S.Th

Balada Pengharapan Si Kumbang (itulah aku…)

Dari arah selatan
Kumbang terbang ke utara
Melawan arah angin yang menjadi tantangan
Demi bunga mawar, itulah aku…

Segala daya yang ada
Si kumbang mencoba medekati sang mawar
Tapi gagal, ada apa?
Ada kupu-kupu dan lebah yang menjadi saingannya

Waktu terus berputar
Si kumbang beraksi kembali
Alhasil, sang mawar telah dicapainya
Sayang, pertemuan itu hanya sekali
Sebab jarak yang jauh justru menjadi halangannya
Tak mungkin ia di situ terus, karena harus kembali
Kumbang hanya berpengharapan saja,
Itulah aku…
_________________________
Tarutung, 17 Januari 2005
By : B. Marada Hutagalung, S.Th

Kau Yang Jauh

Kau yang jauh,
Yang aku rindu, dan kau demikian
Akankah itu bertahan selamanya?

Kau yang jauh,
Yang aku cinta, dan kau demikian
Haruskah dekat agar bertahan selamanya?

Kau yang jauh,
Bukankah suatu halangan bagiku, dan bagimu?
Bila mana cintaku dan cintamu adalah suci

Kau yang jauh,
Sang ilahi yang menjadi pengikat
Bagiku, dan bagimu selamanya…
_________________________
Tarutung, 17 Januari 2005
By : B. Marada Hutagalung, S.Th



Lagu ini telah diubah menjadi sebuah lagu

VIDEO LIRIK

Kuingin Dirimu (O langit biru)

Berhari-hari…
kupandangi dirimu
Membuatku terpana
akan keindahanmu…

Andai ‘kubisa…
terbang seperti burung
‘kupasti ‘kan datang
meraih keindahanmu…

Betapa indahnya, langitmu…
Betapa cerahnya, birumu…
‘Kuingin dirimu…
‘Kuingin dirimu…
O…langit biru
_______________________________________________ 
Oleh : B. Marada Hutagalung
Tarutung, Desember 2004/2005
Ditulis ulang di Tarutung, 21 April 2006
NB. : Ini adalah sebuah syarir lagu yang diciptakan penulis sendiri
klik http://maradagv.blogspot.com/2012/08/kuingin-dirimu-o-langit-biru.html

VIDEO

Meniti Harapan

Bak wajah galau terebos dunia
Tercabik kelam ‘ku yang s’makin lemah
Adakah insan yang dapat menolong?
S’bab ‘ku tak bisa bergerak sendiri.

‘Kan kutetap coba meniti harapanku
Walau s’makin jatuh ‘ku tetap bertahan
Biarlah air mataku menjadi minumanku
Asal kubertemu cita-cintaku...

Walau tak ada yang menolong diri ini
‘Ku takkan menyerah meniti harapan
Biarlah penderitaan menjadi makananku
Asal ‘ku bersua masa yang cerah...

Pasti Yang Kuasa, memb’ri kekuatan...
Berdoa pasrah, meniti harapan...!
_______________________________________________
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th
Tarutung, 02 Desember 2004
Ditulis ulang di Tarutung, 24 Juli 2008
NB. : Ini adalah sebuah syair lagu yang diciptakan penulis sendiri

Salahkah Bila Aku Mencintaimu

Hei...kamu, jangan salahkan’ku
Bila ‘kucintaimu setulus hatiku...
Hei...kamu, jangan engkau marah
Bila ‘kucintaimu sepenuh hatiku...

Jangan engkau marah akan hal itu...
s'bab ‘ku tak bermain-main...
jangan engkau biarkan dirimu kecewa...
gara-gara cintaku...

Bila ‘kucintaimu adalah hakkku
Dan tiada boleh orang melarang...
Dan bila kau tolak akan isi hati
s'bab itu adalah hakmu jua......

Ternyata kamu orang keras kepala
Yang tak mau mengerti aku...
Hanyalah kecuekan yang kamu B’ri...

Bila memang kau tak cinta
Lebih baik jangan berbohong
Katakanlah sejujurnya kepadaku...
Agar aku...tidak menjadi penasaran...

Susahnya aku mengerti dirimu
Yang melaju menjauh dariku...
Salahkah bila aku mencintaimu...
__________________________________
Tarutung, Tahun 2003
Ditulis ulang : Tarutung, 24 Juli 2008
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th
NB. : Ini adalah sebuah syair lagu yang diciptakan penulis sendiri
Lagunya dapat dilihat : klik http://maradagv.blogspot.com/2012/02/alahkah-bila-aku-mencintaimu-video-dan.html

VIDEO

Kekosongan

Hampa!!! Vakum!!!
Tiada apapun!!!
Yach…sama sekali tiada apa-apa!

KOSONG…, KEKOSONGAN…!!!
Pokoknya Kekosongan!!!
Entah, kekosongan cinta…
Kekosongan materi…
Kekosongan spirit…

Pokoknya kekosongan…
Yang jelas, aku lagi kosong!!!
Yang kudapat: Kekosongan…!
_____________________________
Tarutung, December 20th 2003
By: B. Marada Hutagalung
Rewritten: Tarutung, April 21st 2006

Siapakah Dia...?

Seiring detik waktu kulangkahkan kakiku…
Seirama dengan derap kaki kuda suaranya…
Dan tak terduga, kaki berhenti…
Mata ternyata tertuju pada seseorang…
Siapakah dia…?

Dia…ternyata t’lah menggugah hatiku yang tertutup…
Dia…ternyata t’lah rubah sikap pikiranku…
Ah…siapa gerangan…?
Ya…Siapakah dia…?

Mataku kembali bersinar setelah melihat dia…
Hatiku kembali bergairah…
Badanku terasa bersemangat…
Tapi…Siapakah dia…?

Otakku seraya berputar ‘tuk ramal:
Siapakah dia…? Tapi, kutak bisa…
Kucoba mendekatinya…jantungku bagai menghadapi gempa…
Bergema sampai di telinga…

Kucoba cara lain:
Ku bagai polisi tanya sana-sini, Siapakah dia…?
Kurang puas di hati…
Masih terngiang di telinga: Siapakah dia…?

Di rumah…di jalan…di manapun aku berada…:
hatiku telah tertuju padanya…
bahkanku pernah jatuh tersandung hanya karna dia…
Masih dalam pertanyaan di benakku: Siapakah dia…?

Siapakah dia yang telah menggugah hatiku yang tertutup…?
Siapakah dia yang telah merubah sikap pikiranku…?
Siapakah dia yang telah membuat badanku bersemangat…?
Siapakah dia yang telah menembus pintu perasaanku…?
Siapakah dia yang telah merebak kalbuku…?
Masih terngiang terus: SIAPAKAH DIA…?
__________________________
Buat Seseorang,-
Tarutung, November 11th 2003
By: B. Marada Hutagalung.

Engkau Bukanlah Bunga Cintaku...

Dalam dunia percintaan selalu ada keanehan…
Itulah membingungkan aku.
Kumencintai bunga yang lain…
Malah datang bunga yang tidak kucintai.

Segala daya dan tenaga bersatu dalam usaha
untuk mencari dan mendekati bunga yang kucintai.
Eh…amburadul jadinya! Malah kau yang datang…
Kamu memang keras kepala…
Kau paksa aku untuk mencintaimu…
Ingat! Enkau bunkanlah bunga cintaku…

Kamu selalu bermain gelap untuk mengincarku…
Tapi untunglah kau tak tiap harinya mengganggu aku.
Sekali lagi kuingatkan, engkau bukanlah bunga cintaku…!
Ataupun bunga yang kudambakan!

Memang salah dasar kamu ini,
Diberi peringatan, malah menjadi-jadi…
Dasar “BUNGA SEDAP MALAM…”!
Masih pagi-pagi kau sudah menyebarkan bau tak enak…
Sore-sore aku berjaln, tak tahunya kau bereaksi juga…
Malampun kau bermain…

Kucoba untuk memotong jalan di waktumu…
Eh…kamu tetap juga menebarkan bau aneh!
Mungkin saja kau sedap di hidung orang…
hingga kau disebut “BUNGA SEDAP MALAM”,
Tapi bagiku, kau tetap tak sedap di hidungku…
Memang kau BUNGA SEDAP MALAM…
Bunga yang tak kusukai di dunia ini…
_________________________
Tarutung, November 04th 2003
Oleh : B. Marada Hutagalung

Tiga Bunga Pilihan Yang Tak Didapat

Mawar biru…
Bunga yang indah penuh kecerahaan,
Mataku tak pernah berkedip memandangmu
Saatnya kumemetik kamu
Agar orang lain tak lebih dulu…
Aduh! Tanganku tak berhasil memetikmu…
Malah hanya darah yang ke luar dari jemari tanganku…
Sangat disayangkan, keindahanmu ternyata diselimuti oleh duri-duri.

Melati putih…
Bunga yang indah penuh keceriaan,
Perasaanku menganggap bahwa dirimu suci seperti warnamu.
Saatnya kumemetik kamu
Agar orang lain tak lebih dulu…
Aduh! Sungguh alangkah sulitnya kau kupetik…
Aku terlambat, Kau terlampau jauh dan tinggi untuk jangkauan tanganku…
Malah tangan yang lain lebih dekat memetikmu…
Sangat disayangkan, keindahanmu ternyata dibatasi oleh kejauhan-ketinggian.

Aster Pink…
Bunga yang indah penuh kasih,
Hatiku sangat tersentuh akan warnamu.
Saatnya kumemetik kamu
Tapi! Sayang sekali, kau ternyata sudah dimiliki orang…
Disaat kuberencana ‘tuk memetikmu, kumalah dibentak yang punya…
Tangan tak jadi kugerakkan…
Sangat disayangkan, keindahanmu ternyata terpagar oleh yang punya.
_________________________
Tarutung, November 04th 2003
Oleh : B. Marada Hutagalung

My World Is Unique

My world is unique…
The form is alike a ball but elips…
Fulfiled by the life nature…
Those were the creations of God…

Really, that world I think and expose
not the world is the earth really…
My world is unique:
is my desire ~ love…
is my thalenta and skill
is my thinking and feeling that always fight…
is my daily life and situation…
is my family and my self…
is my friendship…

My world is unique…
About my desire…
Want tobe a God’s server according my talent and skill
my love…
the world gives me to love that don’t love me
About my talent
Want to be a musician though to create and arrange the song…
my skill…
Want tobe a programmer, technician, operator.
About my thingking and feeling…
Always fight…no stop…
About my daily life and situation …
Are affected by times and existency
About my family and my self…
Often have the hard problem.
About my friendship…
Too much…
Ever I help
Ever fight…

My world is unique…
There always the change…
_____________________________
Tarutung, November 04th 2003
By: B. Marada Hutagalung.
Revised: Tarutung, April 22nd 2006

Usaha Menghentikan Perang Panas

Tiap waktu melangkah atau tidak…
Diriku selalu berada di tengah perang panas yang berkecamuk,
Yaitu antara dua pihak yang berbeda sifat,
Dua pihak yang tak ada mau mengalah…

Perang panas ini tak kunjung-kunjung henti
Sejak terjadinya perbedaan pemahaman.
Aku tak mau diam saja, kucoba untuk menghentikannya…
Tapi…, kutak bisa!!!

Tak ada waktu tenang…
Tak ada waktu luang…
S’bab tiap waktu selalu mengangkat senjata…
S’bab tiap waktu selalu berperang…
Tak ada yang mau berhenti!!!

Usaha lain, kucoba untuk mendekatinya satu per satu…
Pihak pertama selalu mengandalkan keintelektualan pikiran,
Pihak kedua selalu mengandalkan kekuatan perasaan hati.
Wah…! Gawat! Pendekatankau malah menghasilkan perang lebih dahsyat.

Aduh! Rambutku seraya terbakar akibat perang…
Tulang-tulang otakkupun mulai retak,
Badanku bagai kurang vitamin…kurus bagai tak terurus…
Aku sudah bosan untuk menghentikan perang ini!

Memang dari dulu aku tak pernah belajar untuk menyatukannya,
Ya…menyatukan pikiran dan hati yang selalu berperang dalam diriku,
Aku sudah tak punya semangat lagi untuk hidup,
Kekuatanku habis di tengah perang panas itu.

Mentari pagi mencoba untuk berpendapat ketika aku termenung:
Kedua sifat itu yang ada dalam dirimu tak usah kau cemaskan
Sebenarnya itu terjadi karena dirimu dihantui “Cita ~ Cinta”…
Biarkanlh keduanya berkembang…bagai ayam berenang…
Akhirnya tenggelam. Aku jadi bingung sendiri…
Sedemikian rupakah usaha untuk menghentikan perang panas ini???
_________________________
Tarutung, November 04th 2003
Oleh : B. Marada Hutagalung

Kuingin Bercinta

Cinta…
Kupikir itu hanya sebagai permainan hidup saja,
Tapi, kurasa bukan demikian…
Ya…itu sesungguhnya, s’bab hatiku yang merasa
Bukan pikiranku…

Pikiranku selalu bertanya: Pentingkah bercinta itu?
Lain dengan hatiku: Siapakah cintaku?
Ternyata pikiran dan hati dalam diriku terjadi indikasi…
Bila kusimak, pikiran berargumen bahwa cinta itu tidak penting,
Lain dengan hati: aku butuh cinta!

Sesekali aku bertanya kepada bintang ketika malam tiba:
Kenapa kuingin bercinta?
Tak kuduga ternyata bintang menjawab pertanyaanku melalui cahayanya:
Ia malah mengatakan bahwa hati dalam dirikulah pelakunya
Katanya, hati dalam diriku berubah ketika aku melihat lawan jenisku.

Hatiku memang hebat, bisa mengalahkan pikiranku…
Tapi aneh, ia tahu berkata cinta tapi yang dicintai tak didapat.
Tiba-tiba cahaya bintang berkata kepadaku:
Itu karena terjadi perang panas antara pikiran dan hati dalam dirimu!
Aku tahu maksudnya, pikiran dan hati dalam diriku harus saling mendukung.

Kuingin bercinta, kata hatiku…
Pikiranku malah mendapat kebingungan…
Kuingin bercinta! Hatiku berseru…
Pikiran malah bertanya: Untuk apa kau bercinta?
Pokoknya, kuingin bercinta! S’bab kubutuh cinta…
__________________________
Tarutung, November 03rd 2003
By: B. Marada Hutagalung.

Balada Perjuangan Hidupku

Dari awal…kaki telah kuringankan
Dari awal…dada telah berkobar
Dari awal…mata telah bersinar
Ya, dari awal…segalanya telah kusiapkan.

Ternyata, apa yang kutempuh
berbeda dengan rencana yang telah kurumuskan
Ya, semuanya berubah arah dan arus denganku.
Akhirnya kucoba untuk mengikutinya…
mengikuti arah hembusan angin sepoi-sepoi,
mengikuti arus aliran sungai yang perlahan-lahan.

Indah, enak, dan elok…
Kusimpulkan, kuhampir berhasil,
berkat arus aliran sungai, dan
berkat arah hembusan angin.

Oh…! Aku tahu kini ke mana angin dan sungai akan membawaku.
Kini aku sadar, ku akan dibawa ke laut.
Aduh…! Kutak mau ke laut!
Tak ada yang dapat kuperbuat di sana!

Cara lain! Ya, ada cara lain…
Kucoba melawan arah angin dan arus sungai!
Perasaanku berhasil…tapi, tidak!!!
Ternyata, angin dan sungai bersama cuaca menghalangiku…
Kelihatannya, mereka kerjasama…! Ya, kerjasama yang baik.
Mereka bersatu menjadi badai petaka…akibat melawan
Aku terlanjur mengikuti mereka.

Aku tak mau ke sana! Aku tak mau ke lut!
Kulawaan mereka dengan daya, tenaga yang ada!
Tapi…, ku dijatuhkan sampai terperosok…
Keringat darah dari tubuhku tiada guna,
Aku kalah…aku terlempar ke tanah basah.
Tapi, ada apa? Kenapa aku tak jadi dibawa ke laut?
Ya, kerjasama mereka tak sepadan.

Akhirnya…dengan tubuh lemah kucoba untuk berdiri…
Akhirnya…dengan tubuh kurus tak terurus kucoba untuk bertahan…
Akhirnya…dengan tubuh kacau kucoba melihat ke belakang…
Ya, akhirnya…kucoba untuk berjuang kembali dan bergerak ke depan…
____________________________________
Tarutung, August 25th 2003
By: B. Marada Hutagalung
Rwritten/revised: Tarutung, November 11th 2003

Di manakah Engkau…?

Aku menyesal sekali ketika aku meninggalkanmu sebentar…
gara-gara ada sesuatu yang harus kukerjakan…
Yah…ketika aku menjemputmu…tiba-tiba kau tak di situ…
Di manakah engkau…?
Ah…tak ada lagi pelipurlara untukku…
Tak ada lagi pemberi nasehat untukku…
Tak ada lagi penyampai suara-Nya padaku…
Tak ada lagi yang membantuku, baik berteologi maupun bermazmur…
Aku sangat menyesal meninggalkanmu,
Kini aku merenung: Di manakah ‘kan kucari dirimu?
Kasih, bergeminglah di hatiku…
agar aku tahu di mana engkau…
oh…di manakah engkau…?
“Di manakah engkau ALKITAB-ku…?”
apakah kau diambil orang, ketika kutinggalkan sebentar…?
_____________________________________
Tarutung, July/August 2003
By: B. Marada Hutagalung.
Rewritten/revised: Tarutung, November 10th 2003

Patah Hati

Ah…tiba-tiba hati jadi trenyuh
Diakibatkan sesuatu hal yang tidak diinginkan…
Oh…sakitnya…

Entah kenapa kau berbuat demikian padaku…
Gara-gara kau, aku telah boros waktu
Padahal aku telah siap berbuat apa-apa untukmu…
Kau telah membuat aku patah hati…

Oh…kalah…kalah!
Padahal baru kali itu aku mengatakan cintaku padamu,
Ya, cinta yang sebenarnya…
Tapi, justru kau hancurkan hidupku…

Kau…kau…, oh kau MUSIK-ku…
Oh…MUSIK-ku sayang…,
Kau telah membuat diriku menangis…
Kenapa kau berbuat demikian,
Padahal itu awal publikasi kompetisi yang kuikuti…

Ah…MUSIK-ku…
_____________________________________
Tarutung, March/April 2003
By: B. Marada Hutagalung.
Rewritten/revised: Tarutung, November 10th 2003

Andai Kudapat Terbang

Andai kudapat terbang melayang
keliling dunia seperti elang

O betapa bahagia, andai kudapat terbang
mengitari dunia dan menembus angkasa

Akhirnya kusadari apa yang t’lah kubayang
berharap dalam angan, hanya mimpi belaka

Yang terbang bukan aku, tapi pikiranku yang melayang
bersama awan bayang menuju dunia angan

O...betapa bahagia...
Andai kudapat terbang...!
_______________________________________________
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th
Tarutung, 23+24 September 2002
Ditulis ulang di Tarutung, 24 Juli 2008

NB. : Ini adalah sebuah syair lagu yang diciptakan penulis sendiri

Sampai Bertemu Sayang

Sejak aku masih di Kampus-1 STAKPN…
Kita selalu bertemu di dalam Aula Kampus-1,
baik direncanakan atau tidak direncanakan…
oh…merdunya suaramu,
kadangkala kita bernyanyi bersama…
Aku sedih ketika orang lain mengganggumu
hingga badanmu sakit dan cacat…
Walaupun demikin, aku tetap mencintaimu
dan mengajakmu bersenandung,
dan walau suaramu sudah agak berbeda sebelumnya…
Kadangkala aku sering memukulmu
karena kadang kala kau tidak mau bersuara
tapi aku tetap sayang padamu.
Tapi, setelah aku berada di Kampus-2 di Silangkitang…
Yah…aku jadi jarang bertemu, bahkan sama sekali tidak pernah bertemu…
Maafkan aku sayang…
Bukannya aku tidak suka, tapi gara-gara kampus kita telah berbeda…
Tetapi aku tetap usahakan untuk bertemu dan bernyanyi…
Gara-gara kau membuatku jadi mengenal tentang musik…
Oh…ORGAN Kampus-1 STAKPN…
Sampai bertemu, yah…di lain waktu…
Kutetap usahakaan ‘tuk bertemu engkau…
Sampai bertemu sayang…!
_________________________________________
Tarutung, February 09th 2002
By: B. Marada Hutagalung.
Rewritten/revised: Tarutung, November 10th 2003

Kau T’lah Kujatuhkan Tanpa Sengaja

Oh…betapa kecewanya aku pada diriku sendiri…
Kau t’lah kujatuhkan tanpa sengaja…
Bila kuingat, kuingat kenangan kita berdua…
Wah…sungguh indah.
Setiap hari kau merangkul leherku selalu.
Wujud matamu selalu mengingatkanku pada-Nya…
Khususnya pada hari terakhir di hari Senin…
Yah…kau tetap merangkul leherku ketik menuju Sipoholon
‘tuk mandi air panas bersama teman-teman.
Oh…! Sayang…, ketika aku didorong Irfan dan Armin,
Aku terjatuh dan rangkulanmu terlepas.
Akhirnya engkau tercebur dan tenggelam…
Kutak tahu dan aku juga tak sadar,
Bahwa kau t’lah kujatuhkan tanpa sengaja
dikarenakan aku haru cepat-cepat ke luar dari kolam…
karena air sangat panas dan aku tak tahu…
Setelah selesai mandi, barulah aku sadari bahwa kau telah
hanyut di kolam air panas…
Kuingin menyelamatkanmu dari dalam air,
Tapi, aku tak sanggup menembus air panas…
Akhirnya, aku meninggalkanmu dengan berat hati
diriasi sedih dan pilu…
Oh…KALUNG SALIBKU!
Kini kau tidak merangkul leherku…
Tanpa sengaja, kau t’lah kujatuhkan…
Oh…selamat tinggal, ma’afkan aku…
_________________________________________
Tarutung, February 09th 2002
By: B. Marada Hutagalung.
Rewritten/revised: Tarutung, November 10th 2003

Balada Kisah Kasih Kumbang Dengan Bunga Mawar

Mentari mulai tampak nun jauh di balik gunung
Seekor kupu-kupu nan indah...
Ia hinggap di salah satu daun bunga mawar
Bunga mawar nan indah...masih muda
...belum mekar
segera kupu-kupu hingap di bunganya
Namun, ingin rasanya bunga menolak
Apa hendak dikata...bunga terpaksa memberikan sarinya...
Ya...karena kupu-kupu sudah lama menunggunya
Dan bersumpah ‘tuk tak’kan meninggalkannya
Tapi kupu-kupu tak tega mengambil sarinya...
Ya, masih muda belia
Waktu begitu cepat berjalan...
Kupu-kupu hampir putus asa...sang bunga tak segera mekar
Namun alam memaksa dia, yah...’tuk mencari bunga yang lebih mekar
Yang dapat membuat raganya “kuat”, sebab kupu-kupu sudah tua...
Akhirnya kupu-kupu meninggalkannya...dan tak kembali...!
Dan sang bunga ingin melayani “alam dunia”
Yah...dengan keindahan bunga mawarnya...
Itulah cita-citanya.
Di waktu depan...
Seekor kumbang tidak indah, tapi ‘idiih jelek banget deh...’
Terbang agak kesewotan...
Ia hinggap di salah satu daunnya (bunga mawar)...tidak kesepian lagi...
Kumbang tahu...bahwa sang mawar ingin “memperindah alam”
Tetapi “sepakat” untuk tidak meninggalkannya...
Ingin sekali merasakan sarinya, tapi!!!
Tiap waktu yang ditentukan kumbang selalu datang
Namun pada waktu berikut...kumbang tidak tepat waktu
Hingga bunga mawar merasa kesepian dan agak layu
Kumbang menyesal...ia menyampaikan pesannya
Melalui angin sahabat terbangnya...
Kasihan si kumbang,
Baru kira-kira beberapa minggu telah berpisah
Kumbang gagal mendapat kepastian
_____________________________________
Tarutung 2001/2002
By: B. Marada Hutagalung.
Rewritten/Revised: Tarutung July 16th 2007

Aku Sangat Merindukanmu

Oh…betapa sedihnya hatiku ini
Engkau begitu jauh dariku
Kau t’lah jauh dariku
Suaramu sangat merdu di telingaku
hingga hatiku tak bisa melupakanmu
Kadangkala, kau selalu menemaniku
baik malam maupun siang,
malahan setiap siang hari.
Sering engkau temani diriku
Sambil bernyanyi bersama
Ya, lagu tentang isi hatiku
Mataku! Selalu melirik badanmu yang langsing…
Rambutmu yang bergaya enam cabang…
Tapi, kini engkau t’lah jauh dari sisiku…
Kutak tahu di mana engkau berada…
Padahal cintaku tidak bisa kuberikan pada yang lain…
Kutetap setia padamu…
Oh…sayang, di manakah engkau?
Kini kusendiri tanpa engkau…
Kutak bisa berbuat apa-apa lagi.
Sayang…kutak bisa bernyanyi bersamamu lagi.
Ya…sengaja kutulis puisi ini untukmu, oh…sayang…
Kutak bisa dengar suaramu, oh…GITAR TUAKU.
Tanpa engkau, kutak bisa bersenandungria…
Tanp engkau, kutak bisa menciptakan lagu-lagu lagi…
Oh…GITAR TUAKU…
Kutak bisa menggantikanmu…
Sebab kutak punya duit…
Dari penyayangmu, B.Marada Hutagalung.
__________________________________________
Tarutung, February 07th 2002
By: B. Marada Hutagalung.
Rewritten/revised: Tarutung, November 10th 2003

Raga Menangkap Angin

Tak terasa waktu begitu cepat berjalan
Sangatlah disayangkan, tidak ada perubahan
Sia-sia belaka yang diangankan

Pelik sekali hidup ini
Rasa diri menangkap angin...
Apakah yang terjadi...?
Yah..., sulit untuk dipikir-pikir

Segala cara dicoba,
Untuk sesuatu yang dicita-cita
Namun!!! Yah..., namun semua itu tidak dapat diraga
Mungkin, ...mungkin diri berasa di bejana.

Cita, cinta, sukacita, dan kebahagiaan...pelik sekali
Pelik sekali sukma lalui
Pedih sekali...!!!
Rasa raga menangkap angin...
Rasa raga menjaring air...
Tak satu juapun yang mengerti...
Yah...mengerti yang raga pikir.

Dukacita...keabstrakan dunia yang fana
Dirasa sukma...rasa bersalah, rasa belaka
Membuat lgika kepala ubah jadi lelah
Sukma, raga m’rasa bersalah

Oh..., betapa malangnya sukma –raga diri
Rasa raga menangkap angin...
Rasa raga menjaring air...
Tiada yang mengerti raga...
______________________________
Tarutung 2001/2002
By: B. Marada Hutagalung.
Rewritten: Tarutung July 16st 2007

10 September 2009

Semoga Kau Bahagia

‘Ku’kan nyanyikan lagu senandung rindu
yang kupersembahkan padamu bunga yang ‘kuidamkan...

Cintamu bukan untuk diriku...
Tapi melainkan cintamu tuk sahabatku...

‘Ku’kan doa’kan kalian berdua...
demi keabdian cintamu kepadanya...

O... sayangku, lanjutkan perjalanan cintamu
Jangan biarkan dirimu kecewa gara-garaku...

Semoga kau bahagia bersama dirinya...
Cintailah dirinya, setulus hatimu...

O... sayangku, selamat bercinta
Jangan kau sakiti, hatinya sahabat karibku...


___________________________________________________________
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th
Tarutung, Tahun 2001
Ditulis ulang di Tarutung, 24 Juli 2008
NB. : Ini adalah sebuah syair lagu yang diciptakan penulis sendiri

At Dark Nigth

Dark night...
I sit in a seat..., yeahh...!
While playing a guitar...
Singing a feeling song of my life lovely...

Dark night...
I feel a coldness..., yeahh..!
Companied by the mosquitos...
Only disturb my self
In poorness out a feeling.

A water fall down from my eyes
Stressed b’love n’ambition
Fail i got... is I think
In my mind for this

I’ve ran out my time
Just reclling ambition in my mind, yeahh...!
I’m alo’nly...how to do that...
I’m sure...I wouldn’t get success
If alike this’s...alone forever...

I need someone, love me, I love,
Aiding to finish problems n’ wishes...
Of my mind ~ at dark night...
__________________________________
“Kampoes” STAKPN Tarutung, August 31st 2001
By: B. Marada Hutagalung.
Rewritten/revised: Tarutung, April 21st 2006

Second Rewritten: Tarutung July 16th 2007

Pengunjung

Flag Counter