05 Maret 2026

Saranku Bernyawa Dianggap Kosong

Di saat pertemuan kerabat tertentu,
saat itu juga ada sesi bertanya dan bersaran.
Di kesempatan itu 'ku coba berkata-kata berisi.
Bukan sekedar berisi, tapi bernyawa dan merupakan solusi.

Di saat sang besar meminta masukan,
saat itu juga ada waktu berkritik dan bersaran.
Di kesempatan itu 'ku coba berkata-kata berisi.
Bukan sekedar berisi, tapi bernyawa dan merupakan solusi.

Sayang sekali, kebanyakan bahasaku ditolak.
Begitu di pertemuan kerabat, begitu juga bukan pertemuan kerabat.
Apakah tutur kata salah arah?

Karena itu, membuatku jadi introvert,
sehingga 'ku merasa bak alien.
Hatiku 'ku luangkan agar saranku bernyawa,
malah dianggap kosong dan tak penting.
Apakah bahasaku hanya retorika belaka?

Harus bagaimana lagi 'ku berbahasa,
supaya diterima khalayak kerabat dan orang besar?
Apakah aku levelku harus tinggi?
Apakah aku harus punya orang besar?
Terakhir, kiranya Tuhan melegakan hatiku.
________________________
Tarutung, 5 Maret 2026

Pengunjung

Flag Counter