17 September 2009

Balada Kisah Kasih Kumbang Dengan Bunga Mawar

Mentari mulai tampak nun jauh di balik gunung
Seekor kupu-kupu nan indah...
Ia hinggap di salah satu daun bunga mawar
Bunga mawar nan indah...masih muda
...belum mekar
segera kupu-kupu hingap di bunganya
Namun, ingin rasanya bunga menolak
Apa hendak dikata...bunga terpaksa memberikan sarinya...
Ya...karena kupu-kupu sudah lama menunggunya
Dan bersumpah ‘tuk tak’kan meninggalkannya
Tapi kupu-kupu tak tega mengambil sarinya...
Ya, masih muda belia
Waktu begitu cepat berjalan...
Kupu-kupu hampir putus asa...sang bunga tak segera mekar
Namun alam memaksa dia, yah...’tuk mencari bunga yang lebih mekar
Yang dapat membuat raganya “kuat”, sebab kupu-kupu sudah tua...
Akhirnya kupu-kupu meninggalkannya...dan tak kembali...!
Dan sang bunga ingin melayani “alam dunia”
Yah...dengan keindahan bunga mawarnya...
Itulah cita-citanya.
Di waktu depan...
Seekor kumbang tidak indah, tapi ‘idiih jelek banget deh...’
Terbang agak kesewotan...
Ia hinggap di salah satu daunnya (bunga mawar)...tidak kesepian lagi...
Kumbang tahu...bahwa sang mawar ingin “memperindah alam”
Tetapi “sepakat” untuk tidak meninggalkannya...
Ingin sekali merasakan sarinya, tapi!!!
Tiap waktu yang ditentukan kumbang selalu datang
Namun pada waktu berikut...kumbang tidak tepat waktu
Hingga bunga mawar merasa kesepian dan agak layu
Kumbang menyesal...ia menyampaikan pesannya
Melalui angin sahabat terbangnya...
Kasihan si kumbang,
Baru kira-kira beberapa minggu telah berpisah
Kumbang gagal mendapat kepastian
_____________________________________
Tarutung 2001/2002
By: B. Marada Hutagalung.
Rewritten/Revised: Tarutung July 16th 2007

Aku Sangat Merindukanmu

Oh…betapa sedihnya hatiku ini
Engkau begitu jauh dariku
Kau t’lah jauh dariku
Suaramu sangat merdu di telingaku
hingga hatiku tak bisa melupakanmu
Kadangkala, kau selalu menemaniku
baik malam maupun siang,
malahan setiap siang hari.
Sering engkau temani diriku
Sambil bernyanyi bersama
Ya, lagu tentang isi hatiku
Mataku! Selalu melirik badanmu yang langsing…
Rambutmu yang bergaya enam cabang…
Tapi, kini engkau t’lah jauh dari sisiku…
Kutak tahu di mana engkau berada…
Padahal cintaku tidak bisa kuberikan pada yang lain…
Kutetap setia padamu…
Oh…sayang, di manakah engkau?
Kini kusendiri tanpa engkau…
Kutak bisa berbuat apa-apa lagi.
Sayang…kutak bisa bernyanyi bersamamu lagi.
Ya…sengaja kutulis puisi ini untukmu, oh…sayang…
Kutak bisa dengar suaramu, oh…GITAR TUAKU.
Tanpa engkau, kutak bisa bersenandungria…
Tanp engkau, kutak bisa menciptakan lagu-lagu lagi…
Oh…GITAR TUAKU…
Kutak bisa menggantikanmu…
Sebab kutak punya duit…
Dari penyayangmu, B.Marada Hutagalung.
__________________________________________
Tarutung, February 07th 2002
By: B. Marada Hutagalung.
Rewritten/revised: Tarutung, November 10th 2003

Raga Menangkap Angin

Tak terasa waktu begitu cepat berjalan
Sangatlah disayangkan, tidak ada perubahan
Sia-sia belaka yang diangankan

Pelik sekali hidup ini
Rasa diri menangkap angin...
Apakah yang terjadi...?
Yah..., sulit untuk dipikir-pikir

Segala cara dicoba,
Untuk sesuatu yang dicita-cita
Namun!!! Yah..., namun semua itu tidak dapat diraga
Mungkin, ...mungkin diri berasa di bejana.

Cita, cinta, sukacita, dan kebahagiaan...pelik sekali
Pelik sekali sukma lalui
Pedih sekali...!!!
Rasa raga menangkap angin...
Rasa raga menjaring air...
Tak satu juapun yang mengerti...
Yah...mengerti yang raga pikir.

Dukacita...keabstrakan dunia yang fana
Dirasa sukma...rasa bersalah, rasa belaka
Membuat lgika kepala ubah jadi lelah
Sukma, raga m’rasa bersalah

Oh..., betapa malangnya sukma –raga diri
Rasa raga menangkap angin...
Rasa raga menjaring air...
Tiada yang mengerti raga...
______________________________
Tarutung 2001/2002
By: B. Marada Hutagalung.
Rewritten: Tarutung July 16st 2007

10 September 2009

Semoga Kau Bahagia

‘Ku’kan nyanyikan lagu senandung rindu
yang kupersembahkan padamu bunga yang ‘kuidamkan...

Cintamu bukan untuk diriku...
Tapi melainkan cintamu tuk sahabatku...

‘Ku’kan doa’kan kalian berdua...
demi keabdian cintamu kepadanya...

O... sayangku, lanjutkan perjalanan cintamu
Jangan biarkan dirimu kecewa gara-garaku...

Semoga kau bahagia bersama dirinya...
Cintailah dirinya, setulus hatimu...

O... sayangku, selamat bercinta
Jangan kau sakiti, hatinya sahabat karibku...


___________________________________________________________
Oleh : B. Marada Hutagalung, S.Th
Tarutung, Tahun 2001
Ditulis ulang di Tarutung, 24 Juli 2008
NB. : Ini adalah sebuah syair lagu yang diciptakan penulis sendiri

At Dark Nigth

Dark night...
I sit in a seat..., yeahh...!
While playing a guitar...
Singing a feeling song of my life lovely...

Dark night...
I feel a coldness..., yeahh..!
Companied by the mosquitos...
Only disturb my self
In poorness out a feeling.

A water fall down from my eyes
Stressed b’love n’ambition
Fail i got... is I think
In my mind for this

I’ve ran out my time
Just reclling ambition in my mind, yeahh...!
I’m alo’nly...how to do that...
I’m sure...I wouldn’t get success
If alike this’s...alone forever...

I need someone, love me, I love,
Aiding to finish problems n’ wishes...
Of my mind ~ at dark night...
__________________________________
“Kampoes” STAKPN Tarutung, August 31st 2001
By: B. Marada Hutagalung.
Rewritten/revised: Tarutung, April 21st 2006

Second Rewritten: Tarutung July 16th 2007