kuasa menari bak raja tak bermahkota,
membisik di telinga manusia bagai ular berlidah emas,
menjanjikan kekuasaan setinggi menara kesombongan,
dan kekayaan terus mengalir seperti sungai tanpa muara,
hingga nurani pun ditukar dengan kilauan yang semu.
Mereka berselimut religi, beraroma doa di bibir,
namun hati menjahit kedok kebaikan dan kebijaksanaa dengan kain kepentingan,
ayat-ayat dijadikan perisai, mimbar dijadikan tameng,
fanatisme sengaja dipelihara seperti api dalam sekam,
yang membakar akal sehat dan hati lambat laun,
hingga kebenaran dan kebajikan tersedak oleh tepuk tangan massa.
Di meja-meja emas tempat janji dilukiskan,
tinta sumpah menjadi asap yang menguap,
suara rakyat hanya gema di lorong tak berujung,
keadilan diborgol oleh tangan yang bersumpah menjaganya,
dan kebenaran diperdagangkan bak barang di pasar malam,
serta ditawar mudah oleh tangan-tangan yang lapar kuasa.
Hingga suatu hari, waktu datang bagai hakim tanpa wajah,
membuka lembar-lembar dosa yang pernah disembunyikan,
penyesalan jatuh seperti hujan di musim kemarau hati,
ketika kemarutan datang bagai badai menumbangkan menara kesombongan,
sesal tiada guna, karena kuasa hanyalah fatamorgana,
yang lenyap saat langkah mendekati senja kehidupan.
Pada akhirnya, liang tanah tak mengenal jabatan,
dan peti sunyi tak menampung emas maupun mahkota,
semua kekuasaan hanyalah debu,
semua kekayaan hanyalah bayang,
tak satu pun bisa dibawa ke akhirat,
sebab segala jejak menunggu pengadilan abadi.

